ARUSJABAR.COM — Pembangunan infrastruktur di Kota Bandung tercatat mandek sejak sembilan tahun lalu. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyinggung kondisi ini saat membeberkan timpangnya pertumbuhan ekonomi kota dengan ketersediaan fasilitas publik, Sabtu, 25 September 2026.
Meski laju perekonomian Kota Bandung melonjak hampir 1,9 persen dalam kurun kurang dari satu tahun, akselerasi itu tak diimbangi pembenahan fisik kota. Pemkot Bandung kini merancang skema pembenahan bertahap hingga 2028 demi menyelesaikan tumpukan pekerjaan rumah dari jalan berlubang, trotoar yang tak ramah pejalan kaki, hingga ancaman banjir tahunan.
Farhan mengungkapkan, ketiadaan proyek infrastruktur besar pasca-2017 menjadi pemicu utama menurunnya daya dukung ruang publik di Bandung. Situasi tersebut kian memburuk saat pandemi Covid-19 melanda.
“Secara ekonomi kita sudah lebih mapan. Perkembangan naik dari hampir 1,9 persen dalam kurang dari satu tahun, itu lompatan luar biasa. Tapi pada saat bersamaan, infrastruktur belum semuanya dibereskan karena sebelum Covid, pembangunan infrastruktur terakhir itu tahun 2017. Setelah Covid, tidak ada pembangunan infrastruktur lagi,” tutur Farhan.
Ia menyoroti minimnya fasilitas fisik skala besar yang terbangun dalam kurun sembilan tahun terakhir. Menurut Farhan, penambahan infrastruktur besar di Bandung praktis hanya bertumpu pada dua sektor: jalan layang dan armada bus.
“Infrastruktur besar di Kota Bandung itu hanya dua, jalan layang dan bus. Itu saja, tidak ada lagi yang lain,” tegasnya.



















