ARUSJABAR.COM — Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera menggulirkan program pelatihan bahasa asing bagi masyarakat desa yang diproyeksikan mulai berjalan pada November 2026 mendatang. Program gratis ini dihadirkan untuk meningkatkan kompetensi sekaligus membentengi para calon pekerja migran asal desa agar tidak menghadapi kendala berarti saat bekerja di luar negeri.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menginstruksikan agar setiap camat dapat menyeleksi dan memilih empat desa di wilayahnya sebagai lokasi penyelenggaraan pelatihan bahasa asing tersebut. Adapun empat bahasa utama yang akan diajarkan meliputi bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, dan Arab.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Barat, I Gusti Agung Kim Fajar, menjelaskan bahwa penyiapan kualitas sumber daya manusia (SDM) dari tingkat desa menjadi prioritas krusial. Pasalnya, sebagian besar permasalahan yang kerap menimpa pekerja migran di luar negeri berakar dari ketidaktahuan terhadap prosedur penempatan serta kendala penguasaan bahasa.
“Penyiapan sumber daya manusia penting karena pekerja migran asalnya dari desa. Mereka ada yang kena masalah di luar negeri karena tidak tahu prosedur, apalagi bahasa,” ujar Kim selepas menghadiri acara bursa kerja online di PT Food Packaging Jaya, Kawasan Industri Losarang, Kabupaten Indramayu, Jumat (16/10/2026).
Dalam pelaksanaannya, program yang berlangsung secara cuma-cuma ini akan berjalan selama kurang lebih enam bulan di setiap desa terpilih dengan kuota puluhan peserta per desa. Untuk tenaga pengajar, Disnakertrans akan merekrut para guru SMA dan SMK lokal di Indramayu maupun instruktur mandiri profesional.
Langkah ini mendapat sambutan hangat dari tingkat pemerintahan desa, salah satunya disampaikan oleh Kepala Desa Muntur, Kecamatan Losarang, Tanuri. Ia mengapresiasi penuh kebijakan tersebut mengingat sebagian warganya selama ini telah bekerja di luar negeri—seperti di Arab Saudi dan Taiwan—sebagai baby sitter maupun pelayan restoran tanpa dibekali pelatihan bahasa terlebih dahulu.
Tanuri berharap program ini mampu menekan angka pengangguran di wilayahnya, yang saat ini masih menyisakan sekitar 10 persen dari total penduduk, yang didominasi oleh lulusan sekolah menengah atas (SMA). (Yan AS)



















