“Iya saya malem lewat sini, wow megah ya kalo buat pejabat dan gercep gitu. Lampu terang, satu candi aja ada 10 lampu nyorot ke atas. Beda kalo buat kebutuhan rakyat, lampu jalan aja redup, trotoar kek benteng Takeshi,” tulisnya.
​Kritik warga juga mengarah pada koordinasi antarinstansi pemerintah yang dinilai sering kali melontarkan tanggung jawab pengawasan infrastruktur kota. Akun @rintso menuliskan kekecewaannya menggunakan bahasa Sunda mengenai pola penanganan fasilitas publik di Bandung.
“Ujungna mah patuding-tuding antara Pemprov jeung Pemkot. Lainna koordinasi. Masalah klasik Kota Bandung ti jaman heubeul (Ujung-ujungnya saling menunjuk antara Pemprov dan Pemkot. Bukannya berkoordinasi. Masalah klasik Kota Bandung dari dulu),” catatnya.
​Penataan trotoar dan fasilitas pejalan kaki di Kota Bandung selama ini kerap menjadi indikator kinerja ruang publik kota. Kawasan sekitar Gedung Sate seharusnya menjadi tolok ukur kerapian infrastruktur perkotaan karena posisinya sebagai pusat kegiatan administratif sekaligus destinasi jalan kaki warga dan wisatawan.
​Hingga berita ini diturunkan, kondisi batu trotoar yang terlepas di lokasi tersebut belum mengalami perbaikan permanen. Pembatas atau tanda peringatan sementara belum terpasang di titik-titik permukaan batu yang terangkat, sehingga pejalan kaki diimbau tetap berhati-hati saat melintasi area seberang gerbang Gedung Sate. (IK)


















