ARUSJABAR.COM — Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat mengambil langkah radikal untuk menahan ancaman kelumpuhan TPA Sarimukti akibat darurat sampah di Bandung Raya. Mulai Oktober 2026, sebanyak 25.000 mahasiswa diterjunkan langsung ke permukiman warga. Mereka bertugas memotong laju buangan sampah sejak dari dapur rumah tangga.
​Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, menegaskan bahwa strategi pendampingan lapangan ini bakal berlangsung selama tiga bulan. Demi memastikan efektivitas pergerakan, skema ini dikonversi setara 10 Satuan Kredit Semester (SKS) lengkap dengan pembekalan modul serta aplikasi digital.
​”Targetnya mengurangi sampah dari sumbernya hingga 20 persen. Jika tercapai, dari sekitar 5.000 ton sampah Bandung Raya per hari, ada 1.000 ton yang berhasil dicegat sebelum sampai ke TPA Sarimukti,” kata Herman di Gedung DPRD Jawa Barat, Selasa, 6 Oktober 2026.
​Langkah kolosial ini bukan tanpa perhitungan. Pemprov Jabar mereplikasi kesuksesan uji coba di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Keterlibatan 500 mahasiswa di wilayah tersebut terbukti memangkas timbulan sampah hingga seperlima volume biasa, sekaligus melipatgandakan kepatuhan warga dalam memilah sampah. Keberhasilan itulah yang kini direplikasi secara serentak di 52 kecamatan se-Bandung Raya.
​Di ranah teknis, pemerintah sejatinya telah menyiapkan infrastruktur pengolahan di sektor tengah, mulai dari TPS 3R, fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF), instalasi pengomposan, hingga budidaya maggot. Namun, seluruh teknologi itu kerap berujung sia-sia akibat satu masalah mendasar: sampah rumah tangga yang masuk masih tercampur aduk.
​Herman tak menampik bahwa sumbatan terbesar pengolahan sampah selama ini berada pada faktor manusia. Tanpa perubahan perilaku di tingkat tapak, teknologi secanggih apa pun akan tumbang oleh gunungan sampah yang tak terpilah.


















