ARUSJABAR.COM — Kasus penyebaran Influenza A di Kota Bandung mulai menunjukkan tren penurunan sepanjang Oktober 2026. Meski demikian, Dinas Kesehatan Kota Bandung mengimbau masyarakat untuk tetap mewaspadai potensi penularan infeksi saluran pernapasan yang dinilai masih mengintai di tengah mobilitas warga.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bandung, Dadan Mulyana Kosasih, mengonfirmasi bahwa melandainya grafik tidak hanya terjadi pada Influenza A, tetapi juga pada kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Influenza-Like Illness (ILI).
”Alhamdulillah, pada Oktober ini kasus ISPA dan influenza-like illness atau ILI di Kota Bandung mulai mengalami penurunan,” ujar Dadan saat dikonfirmasi, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Potensi Fenomena Gunung Es
Data laboratorium mencatat sedikitnya 65 kasus Influenza A terkonfirmasi positif di Kota Bandung. Namun, otoritas kesehatan menduga jumlah riil penderita di lapangan jauh melampaui angka tersebut. Ketiadaan kewajiban tes usap (swab test) bagi warga yang mengalami gejala ringan membuat sebagian besar kasus tak terdeteksi sistem pemantauan resmi.
Sifat musiman virus menjadi faktor utama fluktuasi kasus ini. Menurut Dadan, tren kenaikan biasanya terjadi pada periode cuaca tertentu sebelum akhirnya melandai secara alami. Namun, kondisi melandai tak lantas menghapus risiko penularan.
Dampak gelombang serangan penyakit pernapasan ini sempat membebani fasilitas kesehatan setempat. Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bandung Kiwari, Instalasi Gawat Darurat (IGD) mencatat rata-rata kunjungan mencapai 136 pasien per hari sejak awal September 2026. Mayoritas dari mereka membutuhkan penanganan intensif—sekitar 61 persen pasien yang masuk IGD berakhir harus menjalani rawat inap.


















