Herman menegaskan krisis sampah Bandung Raya tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah daerah sendirian. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan warga menjadi kunci utama untuk menekan laju timbulan sampah langsung dari sumbernya.
”Setiap hari sampah di Bandung Raya ada 5.000 ton dan yang terkelola baru 30 persen. Sejatinya ini bisa dikelola sejak dari rumah tangga dengan mengurangi (reduce), memanfaatkan (reuse), dan mendaur ulang (recycle) sampah,” ujar Herman.
Misi Edukasi di Lapangan
Dalam pelaksanaan KKN Tematik ini, sasaran utama ribuan mahasiswa adalah memberikan edukasi dan pendampingan langsung kepada masyarakat. Fokus intervensi diarahkan pada perubahan pola pikir warga dalam memilah sampah sejak dari dapur atau rumah tangga.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendorong mahasiswa menjadi agen perubahan (agent of change) yang mampu menghadirkan solusi praktis di tengah warga, mulai dari pemilahan sampah organik dan anorganik, pembuatan kompos, hingga optimalisasi bank sampah tingkat RW.
Herman menambahkan, langkah turun ke jalan ini merupakan manifestasi nyata pilar ketiga Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat.
”Apa yang akan adek-adek lakukan ini adalah bagian dari tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi. Jadi kita akan sama-sama ke lapangan melakukan edukasi,” tuturnya. ***


















