“Strategi dibiarkan miskin itu untuk apa? Agar mereka patuh. Saya termasuk pemimpin yang tidak mau kepatuhan disebabkan oleh kemiskinan. Saya ingin kepatuhan disebabkan oleh kesejahteraan,” ujar Dedi menegaskan.
Dari perhitungan ekonomi daerah, pengeluaran Rp120 miliar per tahun untuk gaji petani tergolong efisien dibanding dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Kerugian akibat luapan Sungai Citarum, biaya pengerukan sedimentasi, hingga perbaikan infrastruktur yang rusak saban tahun menelan anggaran lebih dari Rp1 triliun.
Selain menekan risiko banjir, keberlanjutan fungsi ekosistem Gunung Wayang dan Situ Cisanti sangat menentukan kelangsungan pasokan air di Jawa Barat. Hulu Citarum merupakan pemasok utama Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di pasokan waduk Cirata, Saguling, dan Jatiluhur.
Aliran air tersebut juga menjadi penopang aktivitas manufaktur di kawasan industri strategis meliputi Purwakarta, Karawang, hingga Bekasi yang mencatatkan perputaran uang hingga puluhan triliun rupiah.
“Kalau Citarum, Cisanti, dan Gunung Wayang mengering, maka industri di situ akan mati,” kata Dedi. Menurutnya, alokasi anggaran daerah tidak boleh melulu habis untuk proyek fisik semata, melainkan harus menyentuh program pemulihan lingkungan yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga. (Yan AS)



















