Sementara itu, daya beli masyarakat tetap terjaga mantap. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) mencatatkan pertumbuhan 5,93 persen. Adapun aktivitas perdagangan internasional menunjukkan kenaikan pada Ekspor Barang dan Jasa sebesar 3,02 persen. Namun, Impor Barang dan Jasa tercatat membengkak 6,11 persen, yang secara langsung memicu kontraksi pada ekspor bersih (net export) sebesar 7,73 persen.
Dari sudut pandang lapangan usaha, sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum memimpin lonjakan tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 14,54 persen. Angka ini menandakan tingginya pemulihan aktivitas mobilitas, pelesiran, dan bisnis industri kuliner di wilayah Jawa Barat.
Di urutan berikutnya, sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib mengekor tajam dengan kenaikan 14,46 persen. Sektor Transportasi dan Pergudangan mengekor kuat di angka 13,61 persen, disusul sektor Jasa Lainnya sebesar 12,18 persen.
Penopang Utama Sektor Riil Tetap Solid
Kendati sektor jasa dan konsumsi publik mencatatkan persentase pertumbuhan tertinggi, struktur ekonomi Jawa Barat masih didominasi oleh industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan. Ketiganya merekam kinerja positif tanpa gangguan berarti.
Sektor Konstruksi mencatatkan pertumbuhan pesat sebesar 9,10 persen. Kenaikan ini berbanding lurus dengan masifnya realisasi investasi modal tetap di kawasan-kawasan industri baru serta percepatan infrastruktur wilayah.
Sementara itu, Industri Pengolahan—yang memegang pangsa terbesar dalam struktur produk domestik regional bruto (PDRB) Jawa Barat—tumbuh stabil di angka 4,98 persen. Sektor Perdagangan menutup jajaran penopang utama dengan pertumbuhan 4,13 persen.
Kombinasi antara ekspansi belanja negara, geliat industri pengolahan, dan moncernya sektor pariwisata menempatkan Jawa Barat sebagai salah satu hub perekonomian paling tangguh di pulau Jawa pada penghujung tahun 2026. (Yan AS)


















