ARUSJABAR.COM — Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Barat pada Agustus 2026 tercatat sebesar 6,67 persen. Angka ini menunjukkan perbaikan tipis dengan penurunan 0,10 persen poin dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 6,77 persen.
Kendati angka pengangguran melandai dan penyerapan tenaga kerja meluas, tantangan struktural ketenagakerjaan masih membayangi. Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tetap mendominasi porsi pengangguran, sementara sektor informal masih menjadi tumpuan mayoritas pekerja di provinsi ini.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, perbaikan angka pengangguran ini sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk yang bekerja. Total penduduk bekerja di Jawa Barat mencapai 24,77 juta orang, bertambah 0,26 juta orang dibanding Agustus 2025.
Sektor Perdagangan Besar dan Eceran keluar sebagai penyerap tenaga kerja terbesar. Sektor ini menampung 5,71 juta orang atau mencakup 23,04 persen dari total keseluruhan pekerja di Jawa Barat.
Meski demikian, struktur pengangguran berdasarkan tingkat pendidikan memperlihatkan ketimpangan yang konsisten. Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, mengungkapkan bahwa lulusan SMK masih menyumbang tingkat pengangguran tertinggi dibanding jenjang pendidikan lainnya.
“Pada Agustus 2026, TPT dari tamatan Sekolah Menengah Kejuruan masih merupakan yang paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya, yaitu sebesar 12,19 persen,” ujar Margaretha dalam Rilis Berita Resmi Statistik di Kantor BPS Jawa Barat, Bandung, Kamis, 5 November 2026.


















