Di balik tingginya angka tersebut, lulusan SMK sebenarnya mencatatkan perbaikan paling signifikan dengan penurunan TPT sebesar 0,62 persen poin dibanding tahun sebelumnya. Sebaliknya, tekanan justru terlihat pada jenjang Diploma I/II/III yang mengalami lonjakan TPT cukup tajam sebesar 1,82 persen poin. Adapun TPT terendah dicatatkan oleh kelompok pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah di angka 2,80 persen.
Dari sisi demografi, TPT laki-laki berada di level 6,79 persen, lebih tinggi daripada perempuan yang tercatat 6,46 persen. Secara tahunan, pengangguran kelompok laki-laki turun 0,13 persen poin, sedangkan perempuan menyusut tipis 0,05 persen poin.
Ditinjau dari wilayah tempat tinggal, pengangguran di perkotaan masih lebih tinggi ketimbang perdesaan. TPT perkotaan tercatat 6,98 persen atau turun 0,21 persen poin. Sebaliknya, wilayah perdesaan justru mengalami kenaikan TPT sebesar 0,22 persen poin menjadi 5,14 persen dibanding Agustus 2025.
Persoalan kualitas lapangan kerja juga masih menjadi catatan krusial. Mayoritas penduduk bekerja di Jawa Barat masih menggantungkan hidup pada sektor informal, yakni mencapai 13,62 juta orang atau 54,98 persen. Sementara itu, pekerja di sektor formal tercatat 11,15 juta orang (45,02 persen), meski ada kenaikan 0,11 juta orang dari tahun sebelumnya.
Dari durasi jam kerja, mayoritas atau 74,39 persen penduduk dikategorikan sebagai pekerja penuh dengan jam kerja minimal 35 jam per minggu. Sisa 25,61 persen lainnya merupakan pekerja tidak penuh yang bekerja di bawah 35 jam per minggu. (Yan AS)


















