ARUSJABAR.COM — Dusun Cibubut di Desa Jayamekar, Kecamatan Cibugel, Kabupaten Sumedang, kini tak lagi sekadar menjadi kawasan perkebunan biasa. Di tangan para petani muda setempat, wilayah pegunungan ini menjelma menjadi pusat produksi sekaligus rantai pasok waluh lejet—sebutan lokal untuk labu siam—yang menguasai pasar Jabodetabek.
​Salah satu pelaku utamanya adalah Ridwan, petani berusia 30 tahun. Ia berhasil membangun model bisnis terintegrasi dari hulu ke hilir hingga mampu memasok sekitar 10 ton labu siam per hari ke kawasan Bogor, di samping pengiriman rutin ke pusat distribusi Jakarta dan Tangerang.
​Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menyebut kiprah Ridwan sebagai bukti nyata keberhasilan regenerasi sektor agraris di daerahnya. Menurut Dony, pertanian modern tidak boleh lagi berhenti di level bercocok tanam konvensional.
​”Alhamdulillah, di Cibubut ini masyarakatnya sejahtera karena bertani seperti Ridwan. Hasil panennya dipasarkan dan dijual ke luar Sumedang, ke Jakarta, Tangerang, dan Bogor,” kata Dony saat meninjau lokasi budi daya di Cibubut, Selasa, 29 September 2026.
​Dari kalkulasi bisnis, budi daya waluh lejet ini tergolong menggiurkan. Modal kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi satu ton labu siam berada di kisaran Rp 11 juta.
Dengan harga jual di tingkat pasar mencapai Rp 12,5 juta per ton, petani mengantongi selisih kotor Rp 1,5 juta per ton. Mengingat volume pengiriman yang menembus puluhan ton setiap pekan, perputaran uang di tingkat petani berlangsung amat cepat.
























