Di balik friksi horizontal tersebut, tersimpan persoalan lingkungan yang jauh lebih besar. Alih fungsi lahan teh menjadi kebun sayur memicu kekhawatiran serius terhadap daya dukung ekologis kawasan.
Pengamat geologi Universitas Padjadjaran, Cipta Endyana, memperingatkan bahwa perubahan tutupan lahan di wilayah perbukitan tanpa mitigasi yang tepat akan melipatgandakan laju erosi. Tanpa sistem perakaran yang kuat seperti pada tanaman teh, air hujan tidak terserap optimal dan berubah menjadi limpasan permukaan.
“Kalau tidak dikelola dengan baik, itu akan menjadi banjir ya, banjir dan membawa lumpur,” ucap Cipta.
Alih fungsi lahan yang masif tanpa terasering atau tata kelola irigasi yang benar, lanjut Cipta, membuat tanah vulkanik pegunungan rentan tergerus. Sedimen yang terbawa aliran air tidak hanya memicu banjir lumpur di wilayah hilir, tetapi juga meningkatkan potensi longsor.
Persoalan di Pangalengan kini berdiri di persimpangan jalan: menegakkan aturan hukum dan kelestarian lingkungan tanpa mengabaikan ruang dialog bagi masyarakat setempat, sebelum kerusakan alam terlanjur menuntut harga yang mahal. ***


















