Penahanan ini memukul keras keluarga Fitri. FN bukan sekadar mahasiswa, melainkan penopang harapan keluarga berpenghasilan rendah yang berhasil menembus perguruan tinggi negeri melalui beasiswa Unit Pengumpul Zakat (UPZ). Di balik sel tahanan, FN berulang kali menyampaikan keinginannya untuk segera kembali ke ruang kuliah.
”Masuk UIN kan tidak gampang, dia mengalahkan ratusan orang. Saya sudah berjuang, sudah dapat beasiswa, terus sekarang seperti ini. Sebagai seorang ibu, saya tidak tega,” tutur Fitri.
Kini, Fitri memohon Gubernur Dedi Mulyadi mau memediasi dan menjadi jembatan aspirasi kepada aparat penegak hukum. Ia menuntut keadilan yang objektif: mengusut pelaku kekerasan murni tanpa mengorbankan mahasiswa yang hanya terjebak dalam dinamika lapangan.
”Kalau memang terbukti merusak atau menyakiti polisi secara fisik, silakan diproses. Tapi kalau hanya terbawa-bawa karena berada di dekat orang yang rusuh, tolonglah ada keadilan dengan mempertimbangkan masa depan pendidikannya,” tegas Fitri. ***



















