ARUSJABAR.COM — Tindakan alih fungsi perkebunan teh menjadi kebun sayur di kawasan Bandung Selatan, Kabupaten Bandung, berpotensi memicu ancaman bencana banjir lumpur dan tanah longsor. Peringatan ini mengemuka setelah dugaan pemusnahan secara liar perkebunan teh milik PTPN I Regional 2 di Kertamanah, Kecamatan Pangalengan, viral di media sosial.
Sekitar 5.000 pohon teh di lahan seluas 0,4 hektare dilaporkan digergaji oleh oknum tak bertanggung jawab untuk dijadikan kebun sayur. Informasi tersebut memicu reaksi keras dari Aliansi Petani Pangalengan (APP) dan berbagai pihak yang mengkhawatirkan dampak ekologis berkurangnya tutupan vegetasi di wilayah perbukitan tersebut.
Pengamat geologi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Cipta Endyana, menjelaskan bahwa perubahan tutupan lahan di kawasan perbukitan memperbesar limpasan air permukaan (run-off) dan mempercepat erosi. Tanah yang diolah untuk tanaman holtikultura atau sayuran jauh lebih rapuh dibandingkan lahan perkebunan teh.
“Kalau hujan turun, tanah tererosi dan membawa banyak sedimen. Nah, itu yang menyebabkan banjir membawa banyak lumpur,” ujar Cipta, Kamis, 29 Oktober 2026.
Menurut Cipta, karakteristik pegunungan Jawa Barat bagian selatan rentan bencana akibat pelapukan batuan vulkanik. Tanaman teh memiliki akar tunggang yang kuat untuk memeluk material tanah, sementara tanaman sayur tidak memiliki struktur perakaran sekuat itu.
“Kalau dialihfungsikan menjadi tanaman yang tidak memiliki akar kuat, air hujan tidak terserap tetapi langsung menjadi air permukaan,” katanya.



















