Cipta menegaskan, pemanfaatan lahan perbukitan tidak boleh dilakukan sporadis tanpa mitigasi teknis seperti pembuat terasering dan pengolahan irigasi yang ketat.
Dedi Mulyadi: “Tunggu Kehancurannya”
Peringatan senada disampaikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ia menyoroti maraknya pengrusakan kebun teh di kawasan Pangalengan dan Ciwidey yang berpotensi memicu bencana ekologis masif. Dedi mengesampingkan persoalan konflik sengketa lahan dan memilih berfokus pada fungsi konservasi lingkungan.
“Saya tidak ada urusan dengan konflik agrarianya, tapi yang saya tekankan adalah jangan menebang tanaman yang memiliki fungsi konservasi, menjaga lingkungan dari ancaman bencana,” tegas Dedi melalui akun media sosial resminya.
Dedi mengingatkan bahwa topografi Bandung Selatan didominasi lereng pegunungan curam. Penggantian tutupan vegetasi secara masif tanpa memikirkan daya dukung lingkungan dipastikan akan membawa dampak fatal bagi keselamatan warga di kawasan hilir.
“Kalau kebun teh terus ditebangin, diganti dengan perkebunan sayur, nanti longsor. Bandung itu lereng gunung. Kalau kemudian semuanya berubah jadi kebun sayur, sudah, tunggu kehancurannya,” ucap Dedi.
Dedi pun mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi atau dimanfaatkan oleh pihak tertentu demi keuntungan ekonomi jangka pendek semata. “Jangan menjadi alat bagi orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan kekayaannya saja, tidak memperhatikan keselamatan lingkungan,” tuturnya.



















