ARUSJABAR.COM — Modus penyusupan zat anestesi medis ke dalam cairan rokok elektronik (e-cigarette) kian marak. Satuan Reserse Narkoba Polresta Bandara Soekarno-Hatta membongkar jaringan peredaran gelap vape berisi etomidate yang dikendalikan warga negara asing. Pengungkapan ini menyeret selebgram Julia Prastini alias Jule, yang tertangkap basah mengonsumsi obat keras tersebut di sebuah apartemen mewah kawasan Jakarta Selatan.
​Polisi menetapkan tiga orang sebagai tersangka, yakni dua pengedar lokal berinisial RR dan RN, serta seorang pemasok utama asal China berinisial XC. Sementara itu, Julia Prastini diposisikan sebagai korban penyalahgunaan. Hasil tes urine mengonfirmasi selebgram itu positif mengonsumsi etomidate—zat pembius berisiko tinggi yang kerap disalahgunakan untuk efek penenang instan.
​Pengungkapan kasus berawal dari operasi intelijen dan pembuntutan tim Satnarkoba pada Senin, 14 September. Petugas terlebih dahulu meringkus RR dan RN yang bertindak sebagai ujung tombak pemasaran. Dari tangan kedua perempuan tersebut, polisi menyita 27 buah cartridge vape siap edar berisi etomidate.
​Pengembangan intensif langsung mengarah pada pembuat skenario utama: XC, warga negara China yang mengendalikan pasokan dari hulu. Dari penggerebekan terhadap XC, aparat mengamankan barang bukti dalam jumlah lebih besar. “Dari tangan XC, aparat menyita barang bukti tambahan berupa 71 pieces vape dengan model yang serupa,” kata Kasat Reserse Narkoba Polresta Bandara Soekarno-Hatta, AKP Michael Kharisma Tandayu, Sabtu.
​Jejak transaksi XC kemudian menuntun penyidik ke kediaman Julia Prastini. Saat digerebek di apartemennya, Julia tak berkutik. Pemeriksaan menunjukkan ia telah mengonsumsi cairan ilegal itu selama dua hingga tiga minggu terakhir. “Kepada polisi, JP mengaku menggunakannya atas alasan pribadi untuk mengatasi stres,” ujar Michael.
​Sistem pemasaran jaringan ini tergolong rapi. Sejak Juli, para pelaku menjaring konsumen eksklusif melalui strategi dari mulut ke mulut (word of mouth) di lingkaran pertemanan terdekat guna menghindari pemantauan aparat. Marjin keuntungan yang dikeruk pun terbilang fantastis.



















