ARUSJABAR.COM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi basah menjelang akhir tahun. Anomali pergeseran pola musim menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi langsung dihantam puncak musim hujan tanpa melalui fase transisi gradual yang normal.
​BMKG memprakirakan sebanyak 61,08 persen wilayah daratan Indonesia mengalami kemunduran awal musim hujan. Sejumlah daerah baru akan memasuki musim basah ini pada akhir Oktober hingga awal November. Meski permulaannya bergeser, puncak musim hujan dipastikan tetap berlangsung pada periode lazim, yakni Desember hingga Februari.
​Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, menegaskan bahwa pola pergeseran ini menciptakan penumpukan intensitas curah hujan dalam durasi yang lebih singkat. Dalam kondisi tanpa anomali iklim seperti El Nino, peralihan musim biasanya terjadi secara bertahap sejak awal Oktober. Namun tahun ini, jeda transisi yang memendek membuat intensitas hujan berpotensi langsung melonjak drastis.
​”Satu hal yang perlu kami sampaikan juga bahwa awal musim hujan datangnya mundur, tapi puncaknya sama. Artinya, puncak musim hujan akan tetap terjadi Desember, Januari, Februari. Artinya apa? Ketika masuk musim hujan, langsung puncak. Nah, ini perlu yang menjadi kewaspadaan, potensi bencana hidrometeorologi basah ya,” ujar Fachri di Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2026.
​Pemetaan Wilayah Rawan dan Imbauan Kewaspadaan
​Berdasarkan analisis peta potensi pertumbuhan awan hujan kategori signifikan—berada pada tingkat sedang hingga tinggi—BMKG memetakan sejumlah wilayah yang memerlukan pengawasan ketat. Wilayah tersebut meliputi:
​Aceh, ​Sumatra Utara, ​Sumatra Barat, ​Sebagian Riau dan Jambi, ​Kalimantan Barat, ​Maluku dan Maluku Utara, serta ​Pulau Papua.



















