ARUSJABAR.COM — Awal musim hujan periode 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi bakal datang terlambat dari kurun normalnya. Meski kedatangannya molor hingga November, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengibarkan bendera kuning. Pasalnya, jeda waktu antara awal kedatangan hujan dan puncak musim basah terhitung sangat sempit—sebuah kondisi ekstrem yang rentan memicu lonjakan curah hujan mendadak beserta ancaman bencana hidrometeorologi.
​Hingga kurun ketiga September 2026, sekitar 61,91 persen luas daratan Indonesia atau setara 556 Zona Musim (ZOM) sejatinya masih berada dalam cengkeraman musim kemarau. Kendati demikian, sinyal bahaya justru mulai tampak di bagian barat Nusantara: wilayah seperti Aceh dan Sumatera Barat sudah lebih dulu diguyur hujan deras yang langsung memicu genangan hingga banjir.
Hujan Tertunda, Puncak Mengintai Cepat
​Kepala BMKG, Prof. Teuku Faisal Fathani, Ph.D., menegaskan bahwa pergeseran kalender iklim ini tidak terjadi secara serentak, melainkan bergerak perlahan melintasi berbagai wilayah.
​”Awal musim hujan 2026/2027 terjadi secara bertahap. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim hujan pada periode November 2026, dengan kecenderungan datang lebih lambat atau mundur,” kata Teuku Faisal dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 24 September 2026.
​Meskipun secara akumulasi sifat hujan 2026/2027 diproyeksikan berada pada rentang normal (mendekati rata-rata klimatologisnya), titik krusialnya terletak pada durasi transisi yang terbilang singkat menuju puncak musim pada Desember 2026 hingga Februari 2027.
​Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, M.Sc., menyoroti bahaya terselubung dari pola distribusi hujan seperti ini. Rapatnya jarak antara awal musim dan puncaknya memperbesar risiko tumpahnya curah hujan berintensitas tinggi dalam tempo singkat.



















