ARUSJABAR.COM — Dewan Tanfidzi Kabupaten (DTK) Persada 212 Garut bersama Kementerian Agama Kabupaten Garut menggelar Dialog Multikultural bertema “Menegakkan Kemanusiaan dan Keluhuran Moral Lintas Iman” di Gedung Pendopo Garut, Selasa, 13 Oktober 2026. Forum ini mempertemukan tokoh lintas agama, TNI, Polres Garut, hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memperkuat toleransi dan menjaga kondusivitas daerah.
​Ketua Umum DTK Persada 212 Garut, Aam Moh. Jalaludin, menegaskan dialog multikultural bukan bertujuan menyamakan keyakinan, melainkan membangun kebersamaan di tengah perbedaan. Menurut dia, perbedaan agama adalah realitas sosial yang tidak perlu dipertentangkan.
​”Yang ingin ditekankan dalam kegiatan ini adalah kebersamaan. Bukan untuk menyamakan semua agama, tetapi bagaimana kita membangun kebersamaan di tengah perbedaan,” kata Aam, didampingi pengurus Ahirudin Yunus.
​Aam meminta masyarakat Garut menyikapi setiap persoalan secara rasional dan tak mudah terprovokasi isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Ia mengingatkan agar konflik atau tindak pidana diselesaikan melalui mekanisme hukum yang berlaku, bukan digiring menjadi narasi yang memecah belah.
​”Jangan sampai setiap ada persoalan di Garut, ujung-ujungnya dibawa ke isu SARA. Kita harus melihat persoalan secara objektif, berdasarkan fakta, bukan membangun opini yang justru memecah belah masyarakat,” ujarnya.
​Kesusilaan dan Tanggung Jawab Personal
​Selain isu toleransi, forum tersebut menyoroti dugaan kasus asusila yang belakangan menyita perhatian publik di Garut. Aam menekankan pentingnya memisahkan tindakan kriminal individu dari institusi atau ajaran agama.






















