Ia secara blak-blakan meminta warga untuk membuang jauh-jauh prinsip hidup yang mementingkan citra publik di atas kemampuan finansial riil.
”Untuk itu, ibu-ibu dan bapak-bapak, cerdaslah dalam mengelola keuangan. Tinggalkan tradisi kajeun tekor asal kasohor (biar tekor asal terkenal),” tegasnya.
Gubernur menegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen mengalihkan fokus pengeluaran rumah tangga pada sektor produktif. Kunci utamanya terletak pada kehadiran negara dalam menanggung beban biaya fundamental warga.
Menurut Dedi, perekonomian keluarga mandiri hanya dapat terwujud jika sektor kesehatan dan pendidikan dijamin sepenuhnya oleh negara. Dengan begitu, masyarakat tidak perlu lagi mengorbankan aset produktif seperti sawah dan kebun, atau menguras tabungan hidup demi berobat dan bersekolah.
”Tugas negara itu ada dua yang utama. Pertama, melindungi rakyat ketika sakit agar tabungan hasil usaha puluhan tahun tidak habis untuk biaya rumah sakit. Kedua, menjamin pendidikan anak-anak agar orang tua tidak perlu menjual sawah atau kebun demi menyekolahkan anaknya,” papar Dedi.
Momentum Penguatan Literasi
Gelaran FinExpo 2026 yang diinisiasi OJK dipandang sebagai momentum strategis. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memanfaatkan ajang ini untuk menggenjot literasi serta inklusi keuangan di tengah masyarakat.
Edukasi masif ini krusial untuk membentengi warga dari tawaran instan pinjol ilegal dan jerat adiksi perjudian digital yang kian marak menggerus ekonomi kerakyatan. (Yan AS)



















