Di Kabupaten Sukabumi, rekonstruksi menyasar jalur Simpang Karanghawu menuju batas Provinsi Banten di Cikotok sepanjang 2,3 kilometer. Proyek senilai Rp10,29 miliar yang menyerap 43 tenaga kerja ini menjadi urat nadi pergerakan warga, pedagang, dan pelancong di pesisir selatan.
Skema serupa bergulir di Kabupaten Garut. Lewat bantuan keuangan provinsi sebesar Rp12,74 miliar, jalan sepanjang 3.839 meter di ruas Garut–Cilandak dibeton. Ruas yang mengaitkan kawasan pertanian dan permukiman warga ke pasar hingga sekolah ini dikerjakan oleh 30 tenaga kerja lokal.
Menembus ketertinggalan di pelosok, Pemprov Jabar mengerahkan 18 unit self-loading concrete mixer atau mobile batching plant. Mesin pengolah beton bergerak ini membikin adonan beton bisa diproduksi langsung di tapak proyek—solusi bagi jalan desa di wilayah terpencil yang tak tersentuh truk molen konvensional.
Keberlanjutan sabuk beton ini bertumpu pada ketahanan pendapatan daerah. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terang-terangan menyebut kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) menjadi juru selamat proyek infrastruktur di tengah sempitnya ruang fiskal.
”Di tengah tekanan fiskal Pemprov Jabar yang dialami, masyarakat Jawa Barat masih bahu-membahu, bergotong royong bersama-sama memberikan bantuan dalam bentuk pembayaran pajak, terutama pajak kendaraan bermotor. Tanpa partisipasi Bapak dan Ibu semua, kami bukan apa-apa dan kami bukan siapa-siapa,” ujar Dedi.
Dukungan finansial dari pembayar pajak itulah yang meniupkan napas panjang bagi penataan konektivitas Jawa Barat. Pemprov mempertaruhkan keandalan jalan ini demi kelancaran pasokan barang, efisiensi mobilitas warga, dan kemudahan akses layanan publik hingga ke pelosok. ***



















