Menu ✖

Otomatis

Nasional

Musim Hujan 2026 Lambat Tiba, BMKG Peringatkan Risiko “Ekor” Bencana di Akhir Tahun

badge-check

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Prof. Teuku Faisal Fathani, Ph.D. (tengah), menyampaikan paparan dalam Konferensi Pers Prakiraan Musim Hujan 2026/2027 di Jakarta, Kamis (24/9/2026). Perbesar

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Prof. Teuku Faisal Fathani, Ph.D. (tengah), menyampaikan paparan dalam Konferensi Pers Prakiraan Musim Hujan 2026/2027 di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

ARUSJABAR.COM — Awal musim hujan periode 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi bakal datang terlambat dari kurun normalnya. Meski kedatangannya molor hingga November, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengibarkan bendera kuning. Pasalnya, jeda waktu antara awal kedatangan hujan dan puncak musim basah terhitung sangat sempit—sebuah kondisi ekstrem yang rentan memicu lonjakan curah hujan mendadak beserta ancaman bencana hidrometeorologi.

​Hingga kurun ketiga September 2026, sekitar 61,91 persen luas daratan Indonesia atau setara 556 Zona Musim (ZOM) sejatinya masih berada dalam cengkeraman musim kemarau. Kendati demikian, sinyal bahaya justru mulai tampak di bagian barat Nusantara: wilayah seperti Aceh dan Sumatera Barat sudah lebih dulu diguyur hujan deras yang langsung memicu genangan hingga banjir.

Hujan Tertunda, Puncak Mengintai Cepat

​Kepala BMKG, Prof. Teuku Faisal Fathani, Ph.D., menegaskan bahwa pergeseran kalender iklim ini tidak terjadi secara serentak, melainkan bergerak perlahan melintasi berbagai wilayah.

​”Awal musim hujan 2026/2027 terjadi secara bertahap. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim hujan pada periode November 2026, dengan kecenderungan datang lebih lambat atau mundur,” kata Teuku Faisal dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 24 September 2026.

​Meskipun secara akumulasi sifat hujan 2026/2027 diproyeksikan berada pada rentang normal (mendekati rata-rata klimatologisnya), titik krusialnya terletak pada durasi transisi yang terbilang singkat menuju puncak musim pada Desember 2026 hingga Februari 2027.

​Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, M.Sc., menyoroti bahaya terselubung dari pola distribusi hujan seperti ini. Rapatnya jarak antara awal musim dan puncaknya memperbesar risiko tumpahnya curah hujan berintensitas tinggi dalam tempo singkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Pemerintah Kucurkan Rp31,8 Triliun untuk Bansos dan Diskon Nataru 2026

22 Okt 2026 - 07:08 WIB

Pemerintah Kucurkan Rp31,8 Triliun untuk Bansos dan Diskon Nataru 2026

Awal Musim Hujan Mundur, BMKG Peringatkan Potensi Anomali Cuaca Ekstrem

15 Okt 2026 - 02:18 WIB

Awal Musim Hujan Mundur, BMKG Peringatkan Potensi Anomali Cuaca Ekstrem

Siaga 98 Desak DPR Cermati Pertimbangan MK Soal Ijazah Gibran Rakabuming Raka

10 Okt 2026 - 21:31 WIB

Siaga 98 Desak DPR Cermati Pertimbangan MK Soal Ijazah Gibran Rakabuming Raka

Rapor Dapur Prabowo Subianto: Rp153 Triliun Mengalir, 1.200 Dapur MBG Didepak

9 Okt 2026 - 08:53 WIB

Rapor Dapur Prabowo Subianto: Rp153 Triliun Mengalir, 1.200 Dapur MBG Didepak

9 Juta Akun Anak Disapu TikTok, Mengapa Meta Mesti Didorong Lebih Keras? ​

8 Okt 2026 - 23:27 WIB

9 Juta Akun Anak Disapu TikTok, Mengapa Meta Mesti Didorong Lebih Keras? ​
Trending di Nasional