”Yang perlu kita waspadai adalah periode antara awal masuknya musim hujan dengan puncaknya yang secara umum berdekatan,” terang Ardhasena. “Perlu kewaspadaan bersama terhadap lonjakan curah hujan yang dapat memicu bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor.”
Peluang Sektor Agraris dan Pasokan Air
Di luar ancaman bencana basah, BMKG mencatat pergeseran ritme iklim ini menyimpan potensi yang bisa dikapitalisasi oleh pemerintah daerah dan pengelola infrastruktur air. Waduk dan bendungan yang menyusut drastis akibat kemarau panjang berpeluang terisi kembali secara optimal jika manajemen penampungan air disiapkan dari jauh hari.
Di samping itu, kepastian jadwal curah hujan menjadi pijakan vital bagi sektor pertanian untuk memperluas area tanam tanpa terbayang-bayang risiko gagal panen akibat kekeringan.
”Musim hujan menghadirkan peluang yang dapat dioptimalkan, seperti mendukung perluasan area tanam pertanian serta pengisian kapasitas waduk dan bendungan yang sempat surut,” pungkas Teuku Faisal.
Guna mencegah kerugian fatal, BMKG mendesak instansi pemerintah, pelaku industri, hingga masyarakat luas untuk tidak memperlakukan informasi iklim sebatas data statistik, melainkan sebagai pijakan aksi dini (early action) dan adaptasi yang terukur. (Yan AS)



















