Di luar teguran kerasnya, Dedi memastikan Pemprov Jawa Barat mengintervensi langsung masalah Nana. Penanganan medis bagi cucu Nana yang sakit disiapkan melalui rujukan ke RSUD Cisarua, Bandung Barat. Sementara itu, proyek pembenahan gubuk Nana dijadwalkan mengebor fondasi pertama pada Senin mendatang, disokong dana operasional awal sebesar Rp25 juta yang telah diserahkan dua hari sebelum kunjungan.
Dedi juga mendorong aparatur kewilayahan maupun masyarakat untuk proaktif memanfaatkan aplikasi digital “Rumah Aing”—sistem pelaporan rumah tidak layak huni (rutilahu) milik Pemprov Jabar—agar kasus serupa terdata secara presisi. Adapun bagi publik yang berniat mengulurkan bantuan, Dedi menyarankan jalur transfer perbankan guna menjamin akuntabilitas dan menghindari risiko kehilangan dana tunai.
Bagi Nana, kehadiran gubernur di kediamannya menjadi angin segar di usia senjanya. Selain merelakan cucunya diboyong ke RSUD Cisarua demi mendapatkan perawatan layak, ia berencana memutar bantuan modal yang diterima untuk membuka warung kecil.
”Alhamdulillah, tidak nyangka sama sekali. Cucu saya diizinkan dirawat di RSUD Cisarua. Uang bantuan yang diberikan nanti mau saya pakai buat modal dagang warung kopi atau mi rebus, yang penting halal,” kata Nana. ***





















