Menu

Otomatis

Nasional

Operasi SAR 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal di Gunung Anak Krakatau Dihentikan Setelah 10 Hari

badge-check

Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Komdigi, Fifi Aleyda Yahya. Perbesar

Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Komdigi, Fifi Aleyda Yahya.

ARUSJABAR.COM — Operasi pencarian dan pertolongan atau SAR terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di kawasan Gunung Anak Krakatau resmi dihentikan. Operasi gabungan tersebut berlangsung selama 10 hari sesuai prosedur standar pencarian dan pertolongan.

Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi menyatakan keprihatinan atas penghentian operasi tersebut. Pemerintah juga menyampaikan simpati kepada keluarga delapan orang yang hingga kini masih menanti kepastian.

Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Komdigi Fifi Aleyda Yahya mengatakan pencarian terakhir telah dilakukan pada Kamis, 17 September 2026. Penghentian operasi dilakukan oleh otoritas SAR sesuai standar operasional prosedur yang berlaku.

“Hari ini secara resmi pencarian terakhir dilakukan bagi mereka yang tengah menjalankan tugas di kawasan Krakatau. Kami sangat prihatin dan berduka atas kejadian ini,” ujar Fifi dalam keterangan resminya, Kamis, 17 September 2026.

Fifi mengatakan penghentian operasi secara formal tidak serta-merta menghapus harapan keluarga. Bagi keluarga, kata dia, pencarian memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar operasi SAR.

“Bagi keluarga, pencarian bukan sekadar operasi search and rescue, tetapi ini adalah sebuah penantian,” katanya.

Menurut Fifi, pemerintah dan ekosistem pers memahami serta menghormati harapan keluarga meski operasi pencarian telah dihentikan berdasarkan prosedur. Ia juga menyampaikan doa agar masih terdapat kemungkinan terbaik bagi delapan orang tersebut.

Peristiwa ini sekaligus mendorong evaluasi terhadap standar keselamatan jurnalis ketika menjalankan tugas di wilayah berisiko tinggi. Fifi menilai keselamatan pekerja media perlu menjadi perhatian bersama, bukan hanya tanggung jawab jurnalis yang berada di lapangan.

Ia menekankan perlunya sinergi antara perusahaan pers, jurnalis, pemerintah, dan seluruh ekosistem media untuk memastikan tugas jurnalistik berjalan dengan perlindungan yang memadai.

“Mencari dan menyajikan informasi terbaik adalah pekerjaan jurnalistik yang penting, tetapi keselamatan jurnalis jauh lebih penting,” ujar Fifi.

Fifi mengingatkan prinsip keselamatan dalam kerja jurnalistik tidak seharusnya ditempatkan berseberangan dengan kebutuhan publik terhadap informasi. Keberanian jurnalis dalam menjalankan tugas, menurut dia, harus diikuti dengan sistem perlindungan dan standar keselamatan yang memadai.

“Ada frasa yang mengatakan ‘tak ada berita seharga nyawa’. Ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan menjadi tanggung jawab kita bersama — pihak media, pemerintah, dan ekosistem pers — agar keberanian jurnalis dalam mencari kebenaran selalu diiringi perlindungan dan standar keselamatan yang memadai,” katanya.

Penghentian operasi SAR setelah 10 hari menyisakan duka dan ketidakpastian bagi keluarga lima jurnalis dan tiga awak kapal. Pemerintah menyatakan tetap menghormati harapan keluarga meski operasi pencarian resmi telah berakhir.

“Doa kami tetap sama: pulangkah. Semoga ada keajaiban dan mereka bisa kembali kepada keluarga serta orang-orang terkasih,” kata Fifi. (Yan AS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Jejak Rp10 Miliar ke Orang Kepercayaan Nusron Wahid Jadi Bidikan Baru KPK

18 Sep 2026 - 00:06 WIB

Jejak Rp10 Miliar ke Orang Kepercayaan Nusron Wahid Jadi Bidikan Baru KPK
Trending di Nasional