ARUSJABAR.COM — Selembar triplek menjadi penyelamat Riyanda, 30 tahun, ketika kapal Virgo Transport 8 tenggelam di Laut Jawa. Warga Cilacap, Jawa Tengah, itu terombang-ambing hampir satu jam dalam gelap sebelum menemukan sekoci yang terlepas dari kapal.
Riyanda akhirnya dievakuasi bersama 69 penumpang lain oleh kapal MV Haida. Mereka tiba di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin pada Minggu malam, 13 September 2026. Namun kepulangan Riyanda ke daratan dibayangi kecemasan: empat teman seperjalanannya masih belum diketahui keberadaannya.

Riyanda berada di kapal bersama lima rekannya. Mereka hendak merantau ke Kalimantan Selatan untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit.
Musibah terjadi pada Sabtu malam, 12 September 2026, sekitar pukul 23.30 WITA. Riyanda sedang tidur ketika suara gaduh membangunkannya.
Saat terjaga, ia mendapati kapal sudah dalam posisi miring. Penumpang mulai panik. Riyanda segera mengenakan baju pelampung.
Ia kemudian mengambil keputusan yang menyelamatkan hidupnya: melompat ke laut.
“Saat saya bangun, posisi kapal sudah miring. Tanpa berpikir panjang, saya langsung mengenakan baju pelampung dan melompat ke laut,” ujar Riyanda, dikutip dari Antara.
Lompatan itu membuat tubuhnya sempat menghantam lambung kapal. Dahinya terluka. Namun Riyanda tidak berhenti. Ia harus segera menjauh dari kapal dan bertahan di tengah laut.
Malam semakin gelap. Ombak mengguncang tubuhnya. Selama hampir satu jam, Riyanda terombang-ambing dan beberapa kali tertelan air laut yang menghantam wajahnya.
Di tengah kondisi tersebut, ia meraih selembar triplek. Benda sederhana itu menjadi tumpuan agar tubuhnya tetap mengapung.
Tak lama kemudian Riyanda menemukan sekoci kapal Virgo Transport 8 yang terlepas di laut. Ia berhasil mencapai sekoci tersebut. Tiga penumpang lain yang juga selamat kemudian berada di sekoci itu.
Mereka masih harus menunggu pertolongan.
Harapan datang ketika MV Haida melintas di sekitar lokasi kejadian. Kapal tersebut mengevakuasi Riyanda bersama 69 penumpang lainnya.
Rombongan korban selamat kemudian dibawa menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Kedatangan mereka pada Minggu malam diselimuti suasana haru. Setelah berjam-jam menghadapi laut, mereka akhirnya kembali menginjak daratan.
Bagi Riyanda, keselamatan itu belum berarti akhir dari kecemasan.
Dari enam orang dalam rombongannya, baru dua orang yang diketahui selamat dan berhasil dievakuasi. Empat lainnya masih belum ditemukan.
Keempat rekannya kini menjadi bagian dari pencarian korban kapal Virgo Transport 8. Riyanda harus menghadapi dua kenyataan sekaligus: dirinya berhasil lolos dari maut, sementara nasib teman-temannya masih menjadi tanda tanya.
Perjalanan yang semula dimulai dengan harapan mendapatkan pekerjaan di Kalimantan Selatan berubah menjadi tragedi. Bagi Riyanda, pengalaman melompat dari kapal, terluka, kemudian bertahan di laut dengan berpegangan pada triplek menjadi bagian paling mencekam dari perjalanan itu.
Ia selamat karena pertolongan datang. Tetapi bagi empat rekannya yang masih hilang, pencarian belum berakhir. ***






















