ARUSJABAR.COM — Mohammad Fayyadh Chaidar Mujahid tidak menghabiskan hari kerjanya di balik meja. Sejak awal 2025, sarjana Agro Teknologi Universitas Padjadjaran itu justru lebih sering berada di sawah dan kebun di Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut. Sebagai Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), ia membantu petani menghadapi ancaman hama dan penyakit tanaman yang bisa menggerus hasil panen.
Bagi Fayyadh, menjadi aparatur sipil negara bukan sekadar mendapatkan pekerjaan. Ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah harus berhadapan dengan persoalan nyata di lapangan. “Awal 2025 saya resmi ditugaskan di Kecamatan Talegong, Garut,” kata Fayyadh dalam wawancara yang dipublikasikan GOSIPGARUT.ID pada Juli 2025.

Fayyadh berasal dari Ujungberung. Ia menyelesaikan pendidikan Agro Teknologi di Universitas Padjadjaran pada 2022. Keinginan menjadi pegawai negeri sudah muncul sejak ia lulus SMA. Ketika Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuka seleksi calon aparatur sipil negara, ia mengambil kesempatan tersebut dan lolos sebagai POPT.
Penempatan di Talegong membuat pekerjaannya bersentuhan langsung dengan persoalan produksi pertanian. Ia melakukan pengamatan terhadap tanaman, mengidentifikasi organisme pengganggu tumbuhan, memantau perkembangan serangan, hingga membantu petani menentukan metode pengendalian.
Tikus sawah menjadi salah satu gangguan yang dihadapi petani. Hama ini dapat merusak tanaman padi dan menurunkan potensi hasil panen. Pengendalian dilakukan antara lain melalui pengemposan dan gropyokan.
Ancaman lain datang dari wereng, penyakit blas, dan penggerek batang. Kondisi cuaca ikut menentukan perkembangan organisme pengganggu tumbuhan. Pada kondisi tertentu, perubahan musim dapat membuat serangan hama maupun penyakit lebih cepat berkembang.
Fayyadh tidak serta-merta mendorong penggunaan pestisida. Pengamatan menjadi dasar sebelum tindakan dilakukan. Ia juga mengenalkan pengendalian terpadu dan penggunaan pestisida alami sebagai salah satu pilihan.
Ulat graya menjadi contoh lain gangguan yang harus diantisipasi. Serangannya dapat muncul secara mendadak dan mengganggu pertumbuhan tanaman apabila tidak segera ditangani.
Persoalan berbeda muncul ketika musim hujan tiba. Jamur dan busuk batang menjadi ancaman yang perlu diwaspadai. Sanitasi lahan dan pemeliharaan irigasi menjadi bagian dari upaya pencegahan.
Talegong yang Tidak Asing
Penempatan Fayyadh di Talegong ternyata tidak membuatnya benar-benar memulai dari nol. Sebelum bertugas di kecamatan tersebut, ia beberapa kali melintasi Talegong ketika bepergian menuju kawasan pantai selatan Jawa Barat.
Karena itu, ketika penugasan datang, suasananya terasa lebih akrab.
“Makanya, ketika akhirnya saya ditempatkan di Talegong, rasanya seperti pulang ke tempat yang sudah akrab,” ujarnya.
Adaptasi dengan masyarakat juga berlangsung relatif cepat. Fayyadh menilai keterbukaan warga menjadi modal penting dalam menjalankan pekerjaan sebagai petugas lapangan. Interaksi dengan petani tidak hanya berupa penyampaian informasi, tetapi juga diskusi mengenai kondisi tanaman dan persoalan yang mereka hadapi.
“Saya bersyukur karena masyarakat Talegong cukup open minded. Mereka mau mendengar, berdiskusi, bahkan memberikan masukan,” katanya.
Pekerjaan Fayyadh memperlihatkan sisi lain profesi ASN. Ia tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi turun langsung ke wilayah yang menjadi tanggung jawabnya. Pengetahuan tentang tanaman yang diperolehnya di kampus digunakan untuk membaca persoalan di lahan pertanian.
Di Talegong, pekerjaannya bermula dari pengamatan sederhana: melihat kondisi tanaman, mengenali gejala serangan, kemudian menentukan langkah pengendalian. Namun keputusan di lapangan itu dapat berpengaruh terhadap produktivitas dan potensi kerugian petani.
Dari Ujungberung ke Talegong, Fayyadh memilih menguji pengetahuan akademiknya di tengah persoalan pertanian. Ia bekerja di antara tanaman dan petani, pada titik ketika gangguan yang terlihat kecil bisa berubah menjadi ancaman terhadap hasil panen. ***






















